Kau dan Keajaiaban Kecilku

Kau dan Keajaiaban Kecilku – Pagi… aku terbangun dengan sejuta ton pemberat di mataku. Gestur tubuhku yang lunglai seakan membisikan kata “Ayo rebahkan kembali saja, udara pagi ini masih terlalu dingin untuk kau lawan sendirian”.  “Oh tidak… aku harus melawan meski tubuh ini serasa di tawan”, gumamku dalam hati. Selesai mempersiapkan diri dan merapihkan kelengkapan, aku melaju dengan scooter maticku menembus dinginnya ibu kota pagi itu. Saat memacu kendaraan di atas jalanan kota Jakarta, aku bisa merasakan betapa antusiasnya Jakarta menyambut pagi ini.

Setibanya di pelataran, aku merasa asing di tengah keramaian. Sekumpulan orang yang bercakap-cakap aku hanya bisa menatap. Seperti judul lagu The Upstairs yang sering ku dendangkan kala remaja, apakah aku sedang berada di Mars ? atau mereka mengundang orang Mars ? . Untuk Sekedar menghangatkan suasana, akupun mulai bertegur sapa. Ya.. setidaknya mereka juga masih kolega, meskipun harusnya aku merayakannya dua tahun lalu. Pagi itu rasanya aku seperti orang yang terbuang atau orang yang tertinggal jauh dari gerombolannya. Ah sudahlah… penyesalan pun tak akan pernah bisa mengubah keadaan.

“Nomor tujuh”, ucapku. Lantas seorang petugas yang yang telah ditunjuk sebagai panitiapun mengantarkan ku ke kursi nomer 7 untuk mengikuti serangkain acara wisudawan & wisudawati yang di gelar di Sasana Kriya, TMII. Mataku mulai liar menyusuri sudut demi sudut ruangan itu. Tak ada satupun yang kukenal. “Ya… sepertinya benar, aku sedang berada di Mars”, hiburku dalam hati. Untuk membuatnya santai, aku menyilangkan kaki dan menghela nafas panjang. Tepat di hadapanku kulihat beberapa panitia yang mulai sibuk, wara-wiri untuk menyiapkan acara yang akan di mulai kurang dari satu jam lagi.

Baca Juga  Review Berlangganan Internet MyRepublic

Kau dan Keajaiaban Kecilku

Hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku. Segala harapan yang dulu sempat terpendam seakan kembali membumbung tinggi ke awan. Ajaibnya… lonceng yang sudah kusam itu kembali bergetar, dentingnya samar-samar terdengar. Suasana hati yang sudah lama tidak pernah kurasakan. Bahkan hampir saja aku mulai lupa, hari itu kembali ku disadarkan oleh pesonanya yang mendarat tepat di kedua bola mataku. Pandangan ini seakan tak ingin beranjak dari sosoknya yang berada tepat di hadapanku. Dari sekian banyak rona wajah yang menyilaukan di ruangan itu, entah kenapa hanya sosoknya yang melekat erat.

Dia terlihat enerjik dan riang. Tak hanya sekali aku menyaksikan senyum yang terlepas dari bibirnya, saat ia bercengkrama dengan rekannya. Dia terlihat begitu menjiwai saat mengiringi acara hari itu dengan nada-nada yang dilantunkannya. Gerakannya pun begitu luwes saat ia harus menari dengan kawanannya mengikuti seorang instruktur yang berada di barisan depan. Harus kuakui sosoknya adalah pencair kebekuan kala itu.

Seperti hari-hari sebelumnya, saat itu aku lupa membawa nyali. Di penghujung acara seharusnya aku mengahampirinya, menjabat erat jemari lembutnya sambil berkata “ Terima Kasih untuk pertunjukannya”. Namun seperti yang sudah-sudah, aku hanya terdiam terpaku memandanginya dari kejauhan hingga sosoknya menghilang di tengah euforia mahasiswa yang merayakan wisuda kala itu. Saat aku berjalan meninggalkan gedung, aku menyerahkan semua kekhawatiranku kepada Tuhan. Besar harapku ia mengabulkannya. Sehingga ada waktu bagiku untuk dipertemukan, meskipun hanya sekedar memandang teduh wajahnya dari kejauhan.

Likalikuluki